PENGARUH BUDAYA ORGANISASI DAN MOTIVASI KANTOR TERHADAP KARYAWAN
THE
INFLUENCE OF ORGANIZATIONAL CULTURE AND OFFICE MOTIVATION ON EMPLOYEE
PERFORMANCE
PENGARUH BUDAYA ORGANISASI DAN MOTIVASI
KANTOR
TERHADAP KINERJA KARYAWAN
Siti
Aisyah
Email: siti.aisyah.abs21@polban.ac.id
Administrasi Bisnis/Administrasi Niaga
Politeknik Negeri Bandung
ABSTRACT
The data collection technique used is the primary data source and the instrument technique used is through questionnaires and data analysis techniques in this study using a quantitative approach with the Partial Least Square (PLS) statistical test measuring tool Smart PLS Program. The results of this study indicate that: 1). The influence of Organizational Culture on Employee Performance is positive and not significant; because Organizational Culture for employees affects no small impact on the running of the company's operations because it can directly affect employee performance. A person's ability is the first measure in improving the performance shown from his work. 2). The effect of work motivation on employee performance is positive because a person's work motivation is low, then his performance will also be low, even if his abilities are there and good, and the opportunities are available.
Keywords: Organizational Culture, Work Motivation and Employee Performance.
ABSTRAK
Peranan
sumber daya manusia dalam suatu perusahaan bisa
berkembang secara baik sebab mempunyai sumber daya manusia yang solid.
Keberlanjutan hidup setrta tumbuh kembang dari sebuah perusahaan tak sekedar
ditetapkan dari pengelolaan ekonomi dan modal dari perusahaan, namun juga
ditetapkan berdasarkan sumber daya manusianya. Sumber daya manusia yang
dikaitkan yakni perusahaan wajib mengintegrasikan anggapan pegawai dan pemimpin
guna menggapai target perusahaan.
Kinerja secara general yakni rupa dan representatif
pegawai yang digambarkan melalui sebuah organisasi, namun pada
pengimplementasiannya agar benar tak semudah itu, sebab sifat dan kapabilitas
yang tak serupa. Yang kemudian lebih dalam dipaparkan Robbins bahwa kinerja
ialah kegunaan dari kapabilitas, semangat, dan kesempatan. Jika hingga pada
penilaian apa sebab seorang pegawai tak bisa menciptakan kinerja dalam sebuah
tahapan yang semestinya ia bisa, maka butuh ditinjau lingkungan kerjanya guna
mengetahui adanya dukungan atau tidak terkait penyelenggaraan tugasnya.
Penelitian ini
bertujuan guna mencari tahu dampak dari masing-masing variabel yang dikaji
serta manfaat yang didapat dari studi ini yakni guna menambah wawasan peneliti
terkait sumber daya manusia, terutama terkait kinerja pegawai, motivasi kerja,
dan budaya organisasi.
Teknik pengkolektifan
data yang dipakai yakni data primer dan instrumen yang dipakai yakni angket.
Teknik analisa data menggunakan pendekatan kuantitatif dengan pengujian
statistik Partial Least Square (PLS) Program Smart PLS. Temuan penelitian ini
memaparkan bahwa : 1) Pengaruh Budaya Organisasi terkait Kinerja Karyawan ialah
positif dan tak signifikan; karena budaya organisasi untuk karyawan berdampak
besar dalam keberlangsungan operasi perusahaan sebab dengan langsung bisa
berdampak pada kinerja pegawai. Kapabilitas individu ialah takaran utama dalam
peningkatan kinerja yang diwujudkan melalui hasil kerjanya. 2) Pengaruh
motivasi kerja terkait kinerja karyawan yakni positif karena motivasi kerja
individu rendah, sehingga kinerjanya juga akan buruk pula walaupun
kapabilitasnya baik serta terdapat peluang.
Kata Kunci: Budaya Organisasi, Motivasi
Kerja dan Kinerja Karyawan.
1.
PENDAHULUAN
Peranan
sumber daya manusia dalam suatu perusahaan dapat berkembang dengan baik karena
memiliki sumber daya manusia yang solid. Keberlangsungan hidup dan tumbuh kembang dari sebuah badan usaha tak sekedar ditetapkan melalui
pengelolaan ekonomi dan modal dari badan usaha, namun juga ditetapkan dari
sumber daya manusianya. Sumber daya manusia yang dikaitkan ykani badan usaha
wajib mengintegrasikan anggapan pegawai dan pemimpin guna memenuhi target
perusahaan.
Di dalam perusahaan indikator yang amat mempengaruhi perusahaan yakni
budaya organisasi. Hal ini memiliki peranan agar dapat mengklasifikasikansetiap
masyarakat dengan cara bertindak dan berinteraksi mengatasi sebuah konflik.
Budaya menyatukan setiap individu dalam grup masyarakat menjadi sebuah kesatuan
anggapan yang mewujudkan keselarasan perilaku atau tindakan. Budaya juga
mempunyai dampak krusial dalam berkembangnya sektor bisnis di nusantara. Budaya
organisasi bisa berdampak pada tindakan individu dan wajib sebagai tolok ukur
dalam masing-masing kegiatan emngembangkan lembaga dan regulasi yang
diberlakukan. Hal ini dikaitkan dengan bagaimana budaya bisa berdampak pada
lembaga dan bagaimana sebuah budaya bisa diatur oleh lembaga .
Edison, dkk. (2016 hal. 120) memaparkan bahwa budaya orgnisasi ialah gambaran dari
kepercayaan, tindakan, anggapan, dan value yang dipunyai bersama. Hal
ini menciptakan cara bertindak dan berhubungan antar individu dan berdampak
pada cara kerja masing-masing. Selanjutnya, budaya organisasi diinginkan bisa
menghasilkan lingkungan yang strategis guna perbaikan kinerja pegawai atau
lembaga.
Sebuah
organisasi dinyatakan sukses jika dengan efejtif dan efisien bisa memberdayakan
sumber daya khususnya pegawai yang maksimal dan profesional. Memberdayakan
sumber daya dengan maksimal dan profesional dimaksudkan memperkerjakan pegawai
semenjak perancangan, penyelenggaraan, sampai peninjauan dan evaluasi dengan
sesuai target dan sudah mencapai dasar-dasar yang diharapkan baik oleh pegawai
maupun lembaga lokasi bekerja. Oleh karena itu, sumber daya manusia bisa
dinyatakan sebagai indikator utama atau pondasi penggeraj dari sebuah lembaga.
Guna menggapai sasaran sebuah organisasi, dibutuhkan sebuah motivasi kerja yang
benar, yang dilimpahkan oleh pemimpin pada pegawai, ataupun antar pegawai guna
memenuhi target suatu lembaga, sebab motivasi kerja pegawai sangatlah mendukung
semangat kerja pegawai. Masing-masing individu butuh motivasi guna mendukung
semangat kerja dalam melaksanakan tugasnya. Dengan dukungan motivasi, individu
lebih rajin dan bersemangat dalam bekerja.
Noor (2013 hal. 280) memaparkan semangat
kerja individu sedikit,
sehingga kinerja juga akan buruk walaupun kapabilitas dan peluang ada. Motivas
kerja individu tinggi namun peluang tak tersedia, maka kinerjanya juga akan
buruk. Demikian juga jika motivasi tinggi, kapabilitas ada, namun kapabilitas
serta kemahiran tak dikembangkan, maka kinerja juga akan buruk. Setiap kegiatan
yang dilaksanakan oleh individu pasti mempunyai indikator yang menyokong
kegiatan itu. Maka dari itu, indikator pendorong dari individu guna
melaksanakan sebuah kegiatan secara general yakni keperluan juga keinginan
individu itu. Jika ia memerlukan serta mengharapkan suatu hal, maka ia tergerak
guna melaksanakan kegiatan tertentu guna menggapai apa yang dibutuhkan.
Motivasi kerja bagi pegawai akan berdampak besar pada keberlangsungan operasi
lembaga sebab dengan langsung bisa berdampak pada kinerja. Kapabilitas individu
ialah tolok ukur utama dalam peningkatan kinerja yang diwujudkan dari hasil
kerja. Hampir seluruh individu yang bekerja ingin melakukan tugasnya secara
optimal. Ditambah bila harus diberikan yang paling benar dari yang sudah
ditentukan serta berupaya dalam menggapai hasil yang optimal.
Selain itu, budaya
organisasi juga mempunyai korelasi erat dengan motivasi kerja
terkait kinerja pegawai. Sadili (2005) memaparkan bahwa motivasi ialah rangkaian mempengaruhi atau menyokong
secara eksternal terkait individu atau lembaga supaya mereka bersedia melakukan
hal yang sudah ditentukan. Motivasi juga bisa dikatakan sebagai dukungan (driving
force) diartikan yakni tekanan yang alami guna memusakan dan menjaga kehidupan.
Motivasi kerja pegawai berperan krusial dalam kesuksesan lembaga, baik
komersial maupun publik, sebab motivasi bisa berdampak pada skala produktif,
komitmen pegawai, juga mutu kerja pegawai dalam lembaga kerjanya. Keharmonisan
target yang dicapai karyawan dengan lembaga melalui budaya akan mewujudkan
sebuah motivasi bagi setiap individu. Para pimpinan wajib memberi motivasi
pegawai supaya mempunyai semangat dan keinginan kerja yang tinggi. Wujud
motivasi lain yang dilimpahkan badan usaha pada pegawainya yakni dengan
menyerahkan penghargaan dan insentif maka target perusahaan akan tercapai
dengan baik.
Gilbert dalam Rahadi memparkan bahwa motivasi ialah daya perangsang pada pekerja supaya bekerja
secara maksimal dengan kapabilitas yang dimiliki guna menambah produktivitas
kerja. Dalam mencapai profesionalisme yang diinginkan, dipbutuhkan kelola yang
bisa menciptakan dukungan kerja yakni sebuah hasil kerja yang bisa digapai oleh
individu atau kelompok ketik berada pada lembaga, sejalan dengan hak guna
menggapai target lembaga dengan motivasi dan kapabilitas yang dipunya masing-masing
individu. Kinerja sebagai kata kerja cenderung detail berarti “thing done”
yakni sebuah haisl yang sudah dikerjakan, jumlah yang digapai oleh individu
dalam mewujudkan kegunaannya sejalan dengan amanah yang dilimpahkan padanya dan
pola terkait skala pencapaian misi dan visi lembaga. Kinerja secara general
yakni rupa dan representatif pekerja yang diwujudkan dari sebuah lembaga, namun
dalam pengimplementasiannya dengan benar tak semudah itu, karena watak individu
yang tak serupa. Yang kemudian lebih dalam dipaparkan Robbins bahwa kinerja
ialah kegunaan dari kapabilitas, semangat, dan kesempatan. Jika hingga pada
penilaian apa sebab seorang pegawai tak bisa menciptakan kinerja dalam sebuah
tahapan yang semestinya ia bisa, maka butuh ditinjau lingkungan kerjanya guna
mengetahui adanya dukungan atau tidak terkait penyelenggaraan tugasnya.
Maka dari itu, peneliti hendak mengkaji terkait
“Pengaruh Budaya Organisasi dan Motivasi Kantor Terhadap Kinerja Karyawan”.
2.
TINJAUAN TEORITIS
2.1 KINERJA KARYAWAN
Kapabilitas individu
ialah tolak ukur awal dalam menambah kinerja yang diwujudkan dengan hasil
kerja. Hampir seluruh individu yang bekerja ingin menjalankan tugasnya sebaik
mungkin. Bahkan bila harus melimpahkan yang terbaik dari yang sudah ditentukan.
Yang mana pegawai yang menjalankan tanggungan kerja yang dilimpahkan umumnya
berupaya guna menggapai hasil yang optimal.
Tika (2010, hal. 122) memaparkan bahwa individu akan selalu menginginkan
insentif yang adil dan reward terkait hasil kerjanya. Penilaian kerja
harus dilaksanakan subyektif sebab akan memotivasi pegawai ketika melaksanakan
tugasnya. Selain itu, penilaian kerja bisa menambah wawasan guna keperluan
penyerahan upah, promosi, serta pemantauan terkait tindakan pegawai. Sebuah
lemaga, baik swasta ataupun pemerintah, selalu didorong oleh segelintir
individu yang ikut andil guna menggapai target perusahaan. Target ini tentunya
tak akan terpenuhi apabila kinerja pegawai tak optimal.
2.2 INDIKATOR KINERJA KARYAWAN
Moeheriono (2012, hal. 114) memaparkan bahwa
indicator kinerja sebagai berikut:
1) Efektif, pengukuran skala kecocokan yang diciptakan dalam memenuhi sebuah
keinginan.
2) Efesiens, pengukuran skalan kecocokan rangkaian dengan luaran
memakai anggaran sedikit mungkin.
3) Kualitas, pengukuran skala kecocokan mutu barang/jasa dengan
keperluan dan keinginan customer.
4) Ketepatan waktu, pengukuran penyelesaian tugas dengan baik dan sesuai
durasi.
5) Produktivitas, pengukuran skala efetif sebuah lembaga.
6) Keselamatan, pengukuran kesehatan lembaga dengan tak terkecuali juga
area kerja pegawai dipandang dari bidang kesehatan.
2.3 BUDAYA ORGANISASI
Sedarmayanti (2016, hal. 99) memaparkan bahwa budaya
organisasi ialah indikator subjek dari apa yang terlaksana pada lembaga, semacam
besaran dan norma yang terdiri dari sebagian atau semua bisnis.
Edison, dkk. (2016 hal. 120) memaparkan bahwa budaya organisasi ialah gambaran dari
kepercayaan, tindakan, anggapan, dan nilai yang dipunyai bersama. Hal ini
menciptakan cara bertindak dan berhubungan antar individu dan berdampak pada
cara kerja masing-masing. Selanjutnya, budaya organisasi diinginkan bisa
menghasilkan lingkungan yang strategis guna perbaikan kinerja pegawai atau
lembaga.
Pemaparan diatas menyatkan bahwa budaya organisasi ialah
kebiasaan yang diberlakukan dalam suatu lembaga. Dari definisi tersebut, bisa
diketahui bahwa budaya organisasi ialah gambaran dari kepercayaan, tindakan,
anggapan, dan nilai yang dipunyai bersama. Hal ini menciptakan cara bertindak dan
berhubungan antar individu dan berdampak pada cara kerja masing-masing.
Selanjutnya, budaya organisasi diinginkan bisa menghasilkan lingkungan yang
strategis guna perbaikan kinerja pegawai atau lembaga.
2.4 INDIKATOR BUDAYA ORGANISASI
Edison, dkk. (2016 hal. 131) menyatakan
indikator dari budaya organisasi,
yang meliputi:
1)
rasa sadar diri
2)
sifat agresif
3)
individualisme
4)
kapabilitas
5)
Orientasi tim
Berikut
adalah penjelasan dari teori diatas :
1) rasa sadar diri. Individu dengan rasa sadar bekerja guna memperoleh rasa
puas dari tugas mereka, pengembangan diri, menaati regulasi, juga menawarkan
produk yang bermutu tinggi.
2) sifat agresif. Individu menentukan target yang realistis juga menantang.
Mereka menentukan gambaran kerja dan taktik guna menggaoai target serta
mengerjakan dengan penuh semangat.
3) individualisme. Individu bertindak sling menghirmati, peka, ramah,
terbuka terkait rasa puas kelompok juga amat meninjau indikator kepuasan
cutomer, baik internal ataupun eksternal (internal wajib melayani bukan
dilayani).
4) kapabilitas. Individu mempunyai kapabilitas berupa kreativitas, mutu,
keefisienan.
5) Orientasi tim. Individu melaksanakan kerjasama yang baik, juga
melaksanakan interaksi dan koordinasi yang praktis dengan keterlibatan anggota
guna memperoleh rasa kepuasan yang tinggi dan komitmen bersama.
2.5 MOTIVASI KERJA
Motivasi merupakan
pendukung individu guna berperilaku. Dalam setiap individu akan muncul kepercayaan bila kerja
optimal maka target lenbaga akan lebih mudah dipenuhi. Badan usaha akan suskes
jika individu didalamnya bekerja sesuai tugasnya. Dalam menjalankan pekerjaan,
pegawai harus diberikan dukungan sehingga potensi yang terdapat pada setiap
individu bisa dirubah menjadi prestasi yang membanggakan perusahaan.
Tambunan (2015, hal. 193), memaparkan bahwa dukungan yakni keperluan dengan
penekanan kuat yang mendukung individu guna mendapatkan rasa puas terkait keperluannya.
Motivasi dilimpahkan oleh pemimpin pada pegawai, motivasi ialah hal krusial
dalam sistem organisasi.
Nila bismala, dkk. (2015, hal. 120) memaparkan motivasi yakni suatu situasi pada setiap
individu guna menyokong harapan guna melaksanakan aktivitas tertentu untuk
menggapai sebuah tujuan. Motivasi iakah kekuatan individu yang menyebabkan
skala persistensi dan antusiasme setiap individu.
Berdasarkan sejumlah
opimi tersebut, dapat dikethaui bahwa motivasi ialah keinginan individu yang
mengakibatkan individu tersebut melaksanakan sebuah upaya, yang mana dilakukan
guna menggapai sebuah tujuan. Dengan tak adanya motivasi atau dukungan guna bekerja,
maka tugas yang dilimpahkan pimpinan yang mana tanggungjawab setiap individu
tak akan selesai. Serta dukungan pada individu guna bekerja dengan rajin dan
benar sejalan dengan tugas dan amanah yang dilimpahkan, guna menggapai
keperluan dan kemauan individu.
2.6 INDIKATOR MOTIVASI KERJA
Edison (2016, hal.167-177) menyatakan sejumlah unsur motivasi kerja:
1) keperluan fisik.
2) keperluan rasa bebas bahaya 3) keperluan guna disenangi 4)
keperluan harga
diri
5) Keperluan peningkatan individu
Dengan pemaparan sebagai berikut:
1) Keperluan fisik
Meliputi keperluan mendasar, semacam pangan, hubungan seksual, rehat,
udara, dan air. Keprluan ini timbul sebelum kemauan pada skala kedua, yakni
keperluan rasa bebas bahaya.
2) Keperluan rasa bebas bahaya
Meliputi seluruh keperluan pada area perlindungan, baik mental dan fisik,
serta terbebas dari ancaman semacam tertib lingkungan, bebas kekerasan. Pada
dunia kerja, keperluan ini terwujudkan sebagai kemanan kerja dan macam
pekerjaan yang aman, jaminan masa tua, dan keperluan penisun.
3) Keperluan guna disenangi
Rasa mempunyai, cinta, sosial ialah keperluan yang cenderung besar, sesudah
tergapai keperluan utama fisik dan rasa aman.
4) Keperluan harga
diri
Dalam tahap ini, seseorang mempunyai keperluan guna berperstasi dan
memperoleh pengakuan dan reward dari lainnya.
5) Keperluan peningkatan diri
Keperluan pengembangan diri atau aktualisasi ialah keperluan pada tingkatan
tertinggi, yakni melengkapi individu dengan mengoptimalkan kemahiran dan
kemampuan yang ada.
Sunyoto (2012 hal. 13) memaprakan sejumlah aspek motiavsi kerja yakni:
1) Promosi
Promosi sebagai gambaran munculnya motivasi individu dalam
melaksanakan tugas dan amanah nya berdasarkan kerja keras.
2)
Kinerja
Kinerja dilandaksan
atas informasi yang luas mempunyai anggapan mendatang yang nyata dan
diimplementasikan dalam kinerja.
3) Pekerjaan itu sendiri
Pekerjaan itu sendiri dilandaskan
atas tingginya dukungan pada individu guna menggapai hal yang optimal dengan
kapabilitas yang dipunya.
4) Penghargaan
Gambaran dan ketekunan tugas dilandaskan pada kepahaman
akan makna pekerkaan yang dilakukan dengan sebaik mungkin dengan skala serius
yang optimal.
5) Tanggung jawab
Upaya guna berkembang
berdasarkan anggapan yang memotivasi
individu guna selalu mempunyai gagasan yang baik dalam bekerja.
6) Pengakuan
Keseriusan bekerja
dilandaskan atas sifat dan loyalitas pegawai dalam melaksanakan tugas tanpa
bosan.
7) Keberhasilan dalam kerja
Kesuksesan bekerja yang selalu mendorong naiknya motivasi pegawai ketika
bekerja, motivasi akan muncul sendiri dengan semakin tingginya kesuksesan yang
dihasilkan.
3.
KERANGKA
BERPIKIR
|
BUDAYA
ORGANISASI |
|
MOTIVASI
KERJA |
|
KINERJA
KARYAWAN |
4.
METODE
PENELITIAN
Sugiyono (2017, hal. 423) memaparkan, Pendekatan
studi yang
dipergunakan yakni kuantitatif. Metode tersbut yakni “metode
penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, teknik
pengambilan sampel pada umumnya dilakukan
secara random, pengumpulan data menggunakan instrument penelitian, analisis data bersifat kuantitatif atau
statistik dengan tujuan untuk menguji
hipotesis yang telah ditetapkan”.
Opini lain yang memaknai penelitian kauntiatif yakni
sebuah pendektana studi yang secara primer memakai gambaran post positivist
ketika membangun wawasan dan pertanyaan detail, memakai ukuran dan pengamatan
dengan uji teori memakai taktik studi semacam percobaan dan angket yang
membutuhkan data statis
(Emzir, 2009, hal. 28).
5.
HASIL
PEMBAHASAN
5.1 Pengaruh budaya organisasi terhadap kinerja
pegawai
Berdasarkan uraian yang disajikan, dapat
disimpulkan bahwa hasil tersebut tidak sesuai dengan teori (Saputra dan
Djastuti, 2015) karena budaya organisasi adalah suatu sistem makna yang
dimiliki bersama oleh para anggota yang membedakan satu organisasi dengan
organisasi lainnya. Budaya organisasi adalah perekat sosial yang menyatukan
organisasi dengan memberikan standar yang konsisten bagi karyawan. Budaya
organisasi memiliki hubungan positif dengan kinerja karyawan. Kinerja karyawan
semakin tinggi menggunakan budaya organisasi. (Tanuwibowo dan Setiawan, 2015,
p. 67).
Kreitner & Kinicki, (2005:532)
menunjukkan budaya kerja ialah agen sosial yang menghubungkan anggota
organisasi tampaknya merupakan sifat atau kepribadian yang berbeda dari orang
ke orang kekuatan organisasi yang bersatu, perlu menjadi perekat sosial. Budaya
bekerja dengan usaha penuh, memengaruhi seseorang dan kerjanya di area kerja.
Budaya organisasi adalah sistem kesamaan di antara para anggotanya yang
membedakan satu organisasi dengan organisasi lainnya. Makna ini mewakili
pemahaman beserta para orang organisasi di dalamnya(Robbins and Coulter,
2006:76).
Hasil pengamatan ini menyiratkan
bahwasanya budaya organisasi pada perusahaan memiliki dampak yang lebih besar
daripada perilaku karyawan. Dalam suatu perusahaan, penerapan budaya organisasi
diwujudkan sebagai perilaku yang sepadan dengan budaya organisasi, yaitu
perilaku karyawan. Hal ini berpengaruh meningkatkan kinerja karyawan, karena
budaya organisasi yang ditentukan oleh perusahaan memiliki kegunaan untuk mencapai
tujuan perusahaan.
5.2 Pengaruh
Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Pegawai
Berdasarkan hasil uraian diatas bahwa
hasil penelitian bertolak belakang dengan teori (Budiman, Arif dan Zunaidah,
2014) hal ini dikarenakan tujuan hasil penelitian adalah untuk meningkatkan
kebutuhan motivasi dan kinerja karyawan, kebutuhan akan kekuasaan dan kebutuhan
hubungan interpersonal. Motivasi karyawan dapat ditingkatkan dengan memberikan
tugas yang lebih menantang kepada karyawan, memberi penghargaan kepada karyawan
atas kinerja dan kerja keras, dan mendukung partisipasi karyawan dalam
asosiasi. Karyawan atau perusahaan juga dapat melakukan kegiatan yang dapat
meningkatkan keakraban karyawan dengan menghilangkan kebosanan terkait
pekerjaan. Budaya perusahaan itu memiliki dampak yang signifikan terhadap
kinerja karyawan. Artinya, ketika budaya organisasi tumbuh, produktivitas atau
kinerja karyawan meningkat (Jufrizen, 2018).
Motivasi adalah proses memotivasi atau
mendorong karyawan untuk bekerja dengan jujur untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan. (Maslow, 1993:197). Motivasi kerja merupakan
suatu yang sangat krusial pada suatu organisasi atau perusahaan. Menurut
Gitosudarmo dan Sudita (2015: 28) Proses pembentukan motivasi merupakan
kombinasi dari konsep kebutuhan, keinginan, tujuan, dan penghargaan. Hasibuan
Selanjutnya (2013:143) mengungkapkan bahwa motivasi bisa disebut juga suatu
yang bisa untuk memberikan sebagai kekuatan pendorong yang menginspirasi
semangat untuk bekerja ingin berkolaborasi, bekerja secara efisien dan
berintegrasi di semua bisnis mereka untuk mencapai kepuasan.
Motivasi berperan langsung dalam kinerja
pegawai, artinya dengan memiliki motivasi pada individu internal maka akan
meningkatkan perubahan tingkat kinerja pegawai. Motivasi Terdiri dari needs atau kebutuhan , wants atau
keinginan serta aspek motivasi bertindak agar terpenuhinya kebutuhan dan
tujuan. Sebagai seorang individu, pekerja pasti berusaha untuk memenuhi
kebutuhan pokoknya, salah satu caranya adalah bekerja dengan orang lain atau di
perusahaan yang memiliki serangkaian kebijakan yang aman dan adil. Di tempat
kerja, dia tahu bahwa dia menetapkan tujuan untuk pekerjaannya dan berusaha
untuk mencapainya, sebagai akibatnya beliau dalam gilirannya mencoba
menciptakan dirinya bermanfaat bagi organisasi. mencapai kinerja maksimal.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa motivasi adalah kekuatan pendorong di
balik hasil yang baik.
6.
KESIMPULAN
Dari analisa dan
pemaparan diatas, maka studi ini bisa disimpulkan sebagai berikut:
1) motivasi kerja bagi pegawai berdampak besar bagi
keberlangsungan operasi badan usaha sebab berdampak secara langsung pada
pegawai. Kapabilitas individu ialah tolok ukur awal ketika menambah kinerja
yang digambarkan dari hasil kerja sehingga pengaruh motivasi kerja terhadap hasil
kerja pegawai ialah positif dan signifikan. Hal ini menyatakan bahwa pegawai
yang bermotivasi yakni karyawan yang sudah memiliki kesungguhan guna
mendapatkan keberhasilan hidup. motivasi pegawai dalam bekerja juga bisa
dinyatakan dengan keikutsertaannya dalam pengambilan putusan. Peran yang nyata
bisa ditinjau dari saran yang diberikan pada pemimpin usaha.
2) Budaya
Organisasi rendah, maka kinerja juga akan buruk walaupun kapabilitas dan peluang tersedia.
Budaya Organisasi tinggi namun peluang dalam pemanfaatan kapabilitas tak
tersedia, maka kinerja akna buruk. Begitu juga jika motivasi kerja tinggi,
peluang tersedia. Sebuah lembaga, baik pemerintah ataupun swasta selalu
didorong oleh segelintir individu yang berperan dalam pemenuhan target yang
diharapkan perusahaan. Tujuan organisasi tak sekedar terpenuhi bila kinerja
individu atau karyawanya tak optimal. Pengaruh Budaya Organisasi Terhadap
Kinerja Karyawan dipengaruhi oleh Motivasi Kerja.
DAFTAR PUSTAKA
Amir,
Syafar, A. W., & Kaseng, S. (2016). Pengaruh Karakteristik Individu,
Motivasi dan Beban Kerja terhadap Kinerja Pegawai Di Rumah Sakit
Daerah Madani Provinsi Sulawesi Tengah (studi perbandingan antara
instalasi kesehatan jiwa dan umum). e Jurnal Katalogis ,1-4.
Mangkunegara,
A.A. Anwar Prabu (2014) Manajemen Sumber Daya Manusia
Perusahaan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Bangun,W.
(2012). Manajemen Sumber Daya Manusia.Jakarta: Erlangga.
Budiman,
A,N,A dan Zunaidah (2014) Analisis pengaruh motivasi dan budaya
organisasi terhadap kinerja karyawan pada PT. Putra Kelana Makmur
Group Batam. Jurnal Manajemen dan Bisnis Sriwijaya.Vol.12 No.1 Maret
2014.Hal 1-49.
Djastuti,I
dan Saputra, B, D (2015) Pengaruh Budaya Organisasi dan Motivasi
Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Pada Hotel Plaza. Semarang.1-4
Emron,
E, A, Yohny dan Komariyah,I. (2016). Manajemen sumber daya manusia.
Bandung: Anggota Ikatan Penerbit Indonesia.
Emzir,
2009. Metode Penelitian Kuantitatif Analisis Data. Jakarta: PT. Raja
grafindo Persada.
Giantari,
I, A, I (2017).Pengaruh Budaya Organisasi terhadap Motivasi Kerja dan Kinerja
Karyawan Pada PT. Klumpu Bali Resort Sanur. Jurnal Manajemen. Fakultas Ekonomi
dan Bisnis Universitas Udayana, Bali. Indonesia.
Gardjito,
A. H., Al Musadieq, M., & Nurtjahjono, G. E. (2014). Pengaruh Motivasi
Kerja Dan Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan (Studi Pada Karyawan
Bagian Produksi PT. Karmand Mitra Andalan Surabaya) Fakultas Ilmu Administrasi
Bisnis Universitas Brawijaya. Jurnal Ilmu Administrasi Bisnis , 1-24.
Feriyanto,
A, S, E, T. (2015). Pengantar manajemen (3 in 1) untuk mahasiswa dan umum.
Jogjakarta: PT Pustaka Baru. 1-12
Jufrizen,
(2018). Peran Motivasi Kerja dalam Memoderasi Pengaruh Kompensasi dan
Disiplin Kerja Terhadap Kinerja Karyawan. The National Conferences Management
and Business (NCMAB), 405-423 Juliandi, A., Irfan, dan Manurung,
Juliandi,
A. (2018). Stuctural equation model based partial least square-SEM-PLS:
Menggunakan SmartPLS. Pelatihan SEM-PLS Program Pascasarjana Universitas Batam.
Batam: Universitas Batam.1-6
Joseph
F. Hair, J., Hult, G. M., Ringle, C. M., & Sarstedt, M. (204). A primer
onpartial least squares structural equation modeling (PLS- SEM).Thousand Oaks,
California: Sage Publications, Inc.
Kasmir.
(2016). Manajemen Sumber Daya Manusia (teori dan praktik). Depok:
PT. Raja Grafindo Persada
Kreitner,
Robert dan Kinicki, Angelo. (2003). Perilaku organisasi.Jakarta:
Salemba Empat.
Moeheriono.
(2012). Pengukuran kinerja berbasis kompetensi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Matondang.
(2008). Kepemimpinan Budaya Organisasi dan Strategik. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Rivai,
Veithzal dan Mulyadi, Deddy. (2012). Kepemimpinan dan perilaku organisasi.
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Sedarmayanti.
(2016) Manajemen sumber daya manusia reformasi birokrasi dan
manajemen pegawai negeri sipil. Bandung: PT. Refika Aditama. Edisi Revisi.
Sunyoto,
D. (2012). Sumber Daya Manusia. Jakarta: CAPS.
Sugiyono.
(2017). Metode penelitian bisnis.Bandung: Alfabeta.
Suparyadi.(2015).
Manajemen sumber daya manusia menciptakan keunggulan bersaing berbasis
kompetensi SDM. Jogjakarta: CV. Andi Offset.
Sutrisno,
Edy. 2010. Manajemen sumber daya manusia. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Tanuwibowo,
M, Hutomo dan Roy, S. (2015). Pengaruh budaya organisasi dan motivasi kerja
terhadap kinerja karyawan pada PT. Lestari Purnama Perkasa. Jurnal Ilmiah
Program Studi Manajemen Bisnis, Universitas Kristen Petra, 1-6.

Komentar
Posting Komentar